Content

Sokrates, Dihukum Mati karena Mengajarkan Berpikir Jernih




PADA zaman keemasan Yunani Kuno, orang bisa berpikir bebas dan mendapatkan pendidikan. Pada masa itu, ada banyak guru melakukan perjalanan keliling negeri. Mereka mendidik anak-anak muda. Di antara para guru itu, yang paling terkenal adalah Sokrates. Dia senang berpikir. Hampir sepanjang hidupnya dia berpikir, berdiskusi, dan mendorong orang-orang lain berpikir.

Cara Sokrates mengajar berbeda dibandingkan cara mengajar para guru lain. Para guru pada waktu itu mengajarkan bahwa kita harus mempertimbangkan akibat dari setiap perbuatan kita sebelum membuat keputusan.

Sokrates tidak mengajarkan seperti itu. Menurutnya, yang paling penting bukanlah akibat dari tindakan kita. Yang paling penting adalah mempertimbangkan apakah tindakan itu benar atau tidak. Jika tindakan itu benar, kita harus melakukannya, tidak peduli apa akibatnya bagi kita.


Peta Yunani Kuno
Berani berpikir sendiri

Salah satu ajaran Sokrates yang paling penting adalah kita harus berani berpikir sendiri. Karena itu dia senang bertanya. Dia mendorong orang berpikir dengan cara mengajukan pertanyaan. Cara Sokrates mengajar sampai sekarang masih tetap dipakai, namanya Metode Sokrates. Cara belajar ini membuat kita mampu berpikir jernih dan selalu mempertanyakan cara berpikir yang berlaku umum.

Sebagai guru, Sokrates tidak merasa serba tahu. “Yang saya tahu mengenai diri saya adalah saya tidak tahu apa-apa,” kata Sokrates. Karena itulah ia senang bertanya,

Tetapi kesukaannya bertanya juga membuat banyak orang terganggu. Ia mempertanyakan keyakinan orang. Ia mempertanyakan apa yang mereka anggap kebenaran. Ia mempertanyakan apa yang mereka pahami tentang baik dan buruk. Pendeknya, ia mempertanyakan segala macam.


Sokrates dan murid-muridnya.
Perbuatan baik dan buruk

Pada suatu saat, Sokrates bercakap-cakap dengan seseorang. Kepada orang yang dia ajak bicara, Sokrates pernah menanyakan apa artinya perbuatan baik.

“Perbuatan baik adalah menjalankan setiap perintah dewa,” kata orang itu.

Orang-orang Yunani Kuno percaya bahwa para dewa itu ada. Pekerjaan para dewa adalah mengatur kehidupan manusia.

“Apakah menghormati orang tua adalah perbuatan baik?” tanya Sokrates lagi.

“Tentu saja,” kata orang itu.

“Dan dewa memerintahkan kita menghormati orang tua?” tanya Sokrates.

“Ya,” kata orang itu.

“Jika dewa tidak memberi perintah, apakah menghormati orang tua tetap merupakan perbuatan baik?” Sokrates terus bertanya.

“Hmm… saya kira ya,” kata orang itu lagi.

“Jadi, karena menghormati orang tua itu perbuatan baik, maka dewa memberi perintah agar kita melakukannya?” tanya Sokrates. “Atau sebuah perbuatan kita sebut baik karena dewa menyuruh kita melakukannya?”

Orang itu tampak kebingungan.

“Maksud saya begini,” kata Sokrates. “Jika yang pertama itu benar, berarti dewa tidak ada urusannya dengan baik atau buruk sebuah tindakan. Jika yang kedua benar, kita bisa berbuat jahat dan menganggapnya sebagai perbuatan baik, sebab kita menjalankan perintah dewa. Jadi, mana yang benar?”

Orang itu tidak berdaya menghadapi pertanyaan-pertanyaan Sokrates.

Sokrates lahir pada 469 sebelum masehi. Ayahnya pembuat patung dan ibunya bidan. Sokrates pernah menjadi tentara dan ikut berperang, Dia pernah juga menjadi tukang batu, tetapi tidak lama. Dia memiliki cukup uang untuk dirinya sendiri, istrinya dan tiga anaknya. Akhirnya dia lebih banyak berjalan-jalan di pasar Athena dan mengajukan pertanyaan yang sulit-sulit kepada orang yang dia jumpai.

Dia biasanya akan memulai dengan pertanyaan: “Apa yang disebut perbuatan baik?” atau “Apa yang dimaksud dengan bijaksana?”

Lalu dia akan berpura-pura tidak tahu apa-apa dan meminta orang lain menjawabnya. Banyak orang senang bercakap-cakap dengannya. Mereka mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Percakapan menjadi menarik karena Sokrates terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Mengapa Sokrates mengajar dengan cara bertanya?

Bertanya merupakan cara Sokrates mengajar orang lain untuk berpikir lebih jernih dan menemukan jawaban terbaik. Sokrates akan menguji jawaban-jawaban mereka dengan mengajukan pertanyaan berikutnya. Dia akan terus bertanya karena jawaban orang-orang tidak pernah memuaskannya. Cara Sokrates bertanya itulah yang mendorong orang berpikir. Mereka berusaha menemukan jawaban yang masuk akal. Dan jawaban yang masuk akal hanya bisa diberikan oleh orang yang mampu berpikir jernih.

Tujuan manusia menurut Sokrates

Sokrates percaya bahwa tujuan utama setiap manusia adalah menemukan kebahagiaan. Manusia melakukan setiap tindakan mereka dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan. Jika orang memiliki cukup pengetahuan dan bisa berpikir jernih, mereka akan mampu menemukan jalan menuju kebahagiaan. Mereka bisa mengambil keputusan dan tahu akibat-akibatnya.

Sokrates mengajar anak-anak muda tanpa meminta bayaran. Ini membuat istrinya, Xanthippe, jengkel dan sering marah-marah. Banyak orang, terutama anak-anak muda, yang menjadi pengikut setianya. Salah satunya adalah Plato, yang akhirnya juga menjadi pemikir terkenal juga.

Sokrates tidak menulis satu buku pun. Kita mengenal pemikiran-pemikiran dan cara dia mengajar melalui tulisan Plato. Plato menulis buku berjudul Dialog, yang berisi percakapan Sokrates dengan orang-orang lain tentang banyak hal, terutama tentang baik dan buruk, dan tindakan manusia.

Dihukum mati

Sayangnya, ada orang-orang yang tidak suka pada Sokrates. Dia dianggap mengganggu. Pada suatu hari, seorang pemuda bernama Meletus menuduh Sokrates telah merusak cara berpikir anak-anak muda. Dia juga dianggap tidak mengakui para dewa.

Pada 399 sebelum masehi, Sokrates dibawa ke pengadilan. Dia dinyatakan bersalah dan hakim memutuskan hukuman mati.


Penjara Sokrates
Teman-temannya membujuk Sokrates agar melarikan diri. Namun dia tetap setia pada apa yang sudah dia ajarkan. Dengan tenang dia memikirkan apakah melarikan diri adalah perbuatan yang benar atau tidak. Akhirnya dia membuat keputusan: Bahkan orang yang tidak bersalah pun harus tetap tunduk pada hukum negara.

Sokrates menjalani hukuman matinya dengan meminum secawan racun yang disediakan untuknya.


Sokrates meminum racun dari cawan yang disediakan untuknya.
Racun yang ia minum adalah racun dari tumbuhan hemlock.

Tumbuhan hemlock ini secara sepintas mirip tumbuhan wortel liar. Tetapi tumbuhan hemlock tingginya antara 2,5 sampai 3 meter, sementara wortel liar kurang dari satu meter dan ranting-rantingnya berbulu.


Tumbuhan hemlock.



0 comments:

Post a Comment

Mungkin Anda Belum Baca