Oleh: A.S. Laksana

BABA membaca pengumuman tentang lomba mengarang cerita. Dia ingin ikut, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengarang cerita. Ayahnya menyarankan dia belajar kepada Pak Blawong.
“Belajar mengarang kepada tukang sumur bor?” tanya Baba keheranan.
“Bukan yang itu,” kata ayahnya. “Pak Blawong satunya lagi. Dia pengarang hebat. Jika kau belajar sesuatu, belajarlah kepada orang yang hebat.”
Pada Minggu sore, Baba mengayuh sepeda ke rumah Pak Blawong. Dia sudah memutuskan belajar menulis kepada pengarang hebat.
Pak Blawong tinggal di kampung sebelah. Mula-mula Baba mengayuh sepedanya penuh semangat, tetapi kayuhannya semakin pelan ketika sudah dekat. Dia mulai ragu.
Pak Blawong sedang membaca buku di teras ketika Baba melintas di depan rumahnya. Baba terus mengayuh sepedanya. Dia ingin berhenti, tetapi tidak jadi. Dia merasa malu dan memilih terus saja mengayuh sepedanya. Akhirnya, dia pulang lagi ke rumah.
"Cepat sekali belajarmu, Baba?” tanya ayahnya. “Apa yang kaupelajari?”
Baba menggeleng.
“Aku malu, Yah,” katanya.
“Kenapa? Apakah dengkulmu copot di jalan?”
“Tidak.”
“Hidungmu berubah menjadi belalai?”
Baba menggeleng lagi. Ayah orang baik, tetapi kadang-kadang menjengkelkan, terutama kalau sudah mulai bertanya.
“Tidak.”
“O, semuanya masih beres?”
“Ya.”
“Jadi, apa yang membuatmu malu belajar? Kau tidak akan menjadi lebih pintar jika malu belajar.”
Ayah kemudian menelepon Pak Blawong. Malamnya, dia memberi tahu Baba bahwa Pak Blawong mengirim email untuknya. Baba membuka email yang dikirimkan oleh Pak Blawong dan membacanya:
----
Hai, Baba!
Kudengar kau ingin belajar mengarang. Bagus! Aku senang mendengarnya. Setiap anak seharusnya belajar menulis. Belajar menulis adalah jalan terbaik untuk memperbaiki cara berpikir.
Sekarang, siapkan kertas dan pensil. Boleh juga kertas dan pena. Kita belajar hal yang penting hari ini, yaitu membuat kalimat. Kau akan menjadi penulis hebat jika mampu membuat kalimat bagus. Mari kita mulai.
Sekarang, siapkan kertas dan pensil. Boleh juga kertas dan pena. Kita belajar hal yang penting hari ini, yaitu membuat kalimat. Kau akan menjadi penulis hebat jika mampu membuat kalimat bagus. Mari kita mulai.
Apa yang sudah pernah kaukerjakan? O, tentu banyak. Kau sudah mengerjakan banyak hal. Kita ambil kegiatan yang setiap hari kaulakukan. Misalnya, makan. Jadi, kita mulai dari kalimat yang paling sederhana.
- Saya makan.
Makan apa? Mangga? Mungkin kau suka mangga atau pernah makan mangga. Kalimat kita menjadi seperti ini:
- Saya makan mangga.
Di mana kau makan mangga? Di rumah teman?
- Saya makan mangga di rumah teman saya.
Kapan? Minggu lalu?
- Saya makan mangga di rumah teman saya minggu lalu.
Apakah ada kejadian lain yang berlangsung saat kau sedang makan mangga? Tentu saja ada. Ada banyak kejadian di dunia ini yang berlangsung dalam waktu bersamaan.
Ketika saya sedang menulis surat ini, istri saya menerima telepon dari kakaknya. Pada saat yang sama, anak saya Rudi sedang bermain-main dengan kucing piaraannya. Pada saat yang sama juga, ada orang mengetuk pintu rumah kami.
Ketika saya sedang menulis surat ini, istri saya menerima telepon dari kakaknya. Pada saat yang sama, anak saya Rudi sedang bermain-main dengan kucing piaraannya. Pada saat yang sama juga, ada orang mengetuk pintu rumah kami.
Ada empat peristiwa terjadi bersamaan. Saya bisa membuat kalimat seperti ini:
- Saya sedang menulis surat untuk Baba dan istri saya sedang menerima telepon dari kakaknya dan Rudi sedang bermain-main dengan kucing kesayangannya ketika pintu rumah kami diketuk orang.
Terlalu panjang? Jangan takut dengan kalimat panjang. Yang penting, kalimatmu jelas.
Sekarang, kembali ke kalimatmu, ada kejadian apa ketika kau sedang makan mangga? O, ada pesawat angkasa luar berbentuk telur mendarat di tanah lapang seberang jalan. Kau bisa menulis seperti ini:
- Saya sedang makan mangga di rumah teman minggu lalu ketika sebuah pesawat angkasa luar berbentuk telur mendarat di tanah lapang seberang jalan.
Atau, jika kau menyukai kalimat yang lebih pendek, kita bisa memecah kalimat itu menjadi dua:
- Saya makan mangga di rumah teman minggu lalu. Pada saat itu, sebuah pesawat angkasa luar berbentuk telur mendarat di tanah lapang seberang jalan.
Sekarang, untuk latihan pertama, kau berlatih 25 menit membuat kalimat sebanyak-banyaknya. Gunakan pertanyaan-pertanyaan ini untuk membantu menyusun kalimat:
- Apa yang kaulakukan?
- Di mana?
- Kapan?
- Ada kejadian apa pada saat yang sama?
Selamat belajar, Baba. Lain kali datanglah ke rumahku. Kita belajar lebih banyak.
***
Latihan
Nah, latihan kita hari ini adalah membuat kalimat, seperti yang diminta Pak Blawong kepada Baba. Mungkin perlu satu contoh lagi? Baiklah, ini satu contoh lagi dengan kalimat awal "Ibu menggoreng ikan."
- Ibu menggoreng ikan.
- Ibu menggoreng ikan di dapur.
- Ibu menggoreng ikan di dapur pada Rabu malam.
- Ibu sedang menggoreng ikan di dapur pada Rabu malam ketika seekor naga turun dari langit memakan sapi milik tetangga sebelah.
- Saya mengejar angsa.
- Irma membeli kue.
- Bapak membaca buku.
Selamat berlatih.
Bacaan selanjutnya: Mari Membuat Cerita Sendiri

0 comments:
Post a Comment