![]() |
| Era informasi Abad ke-21 |
MARI kita bayangkan seseorang bertanya kepada kita seperti ini: Siapa dua orang yang menandatangani naskah proklamasi Indonesia?
Itu pertanyaan mudah. Kita bisa menjawabnya tanpa berpikir keras, yaitu Soekarno dan Mohammad Hatta. Jika kita menanyakannya kepada seribu orang yang pernah membaca informasi tentang hal itu, kita akan mendapatkan jawaban yang sama.
Sekarang, kita coba pertanyaan yang berbeda. Bagaimana proklamasi kemerdekaan mempengaruhi kehidupan orang-orang di kepulauan Nusantara?
Nah, ini bukan pertanyaan mudah. Jika pertanyaan itu kita ajukan kepada seribu orang, kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda dari mereka. Orang perlu mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan orang-orang di kepulauan Nusantara, mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, dan menganalisa kehidupan sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan. Untuk menjawab pertanyaan semacam itulah kita memerlukan keterampilan critical thinking. Kita diminta memberikan bukti-bukti dan menyampaikan penjelasan secara jernih.
Critical thinking adalah sebuah keterampilan. Untuk menguasainya, kita perlu melatih diri, dan menjadikannya kebiasaan sehari-hari. Ia akan membantu kita dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Dengan menguasai critical thinking, kita bisa lebih percaya diri terhadap keputusan-keputusan yang kita buat, juga terhadap kesimpulan-kesimpulan kita, sebab kita memiliki bukti-bukti yang mendukung penalaran kita untuk membuat keputusan atau menarik kesimpulan.
Mungkin pada suatu saat kita harus mengevaluasi pernyataan atau pendapat seseorang. Pada kesempatan lain kita harus mempertahankan pendapat kita sendiri. Untuk itu, kita memerlukan critical thinking.
Bahkan kita juga perlu menguji pendapat kita sendiri. Misalnya: "Menurut saya pelajaran bahasa Indonesia sungguh membosankan.” Kita perlu menguji pandangan tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Apakah kita kesulitan memahaminya, sehingga kita berpikir bahasa Indonesia membosankan? Apakah ada bagian tertentu dari pelajaran itu yang sulit dipahami? Atau kita tidak menyukai cara penyampaiannya? Atau kita tidak mendapatkan cukup informasi tentang apa pentingnya mempelajari bahasa Indonesia?
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita akan menemukan penyebab kebosanan kita dan mempunyai alasan yang masuk akal untuk membuat keputusan: apakah akan terus mempertahankan kebosanan itu atau akan mempelajari bahasa Indonesia dengan cara pandang dan kesadaran baru. Ini juga berlaku untuk hal-hal lain.
Tiga jenis pemikir
Pemikir malas, yaitu orang yang cenderung tidak mau berpikir keras atau tidak mau berpikir sama sekali. Biasanya mereka tidak mempertimbangkan berbagai perspektif lain atau menyadari bahwa mungkin ada yang keliru dengan penalaran mereka. Mereka biasanya bukan pengambil keputusan.
● Pokoknya gitu, deh.
● Apa alasannya, ya? Pokoknya cocok banget dengan selera gue.
● Bodo, ah! Gue nggak ngerti caranya.
Pemikir egois, yaitu orang yang cenderung berpikir mengenai dirinya sendiri. Mereka berpikir bagaimana cara membujuk orang lain agar mengikuti kemauan mereka, dan kurang peduli pada akurasi.
● Apa yang harus kukatakan agar dia mau mendukung rencanaku?
● Gimana caranya agar mereka tidak tahu kejadian sebenarnya?
● Apa yang harus kuceritakan agar terhindar dari hukuman?
Pemikir mendalam, adalah seorang pemikir kritis. Ia tahu keterbatasannya sendiri. Ia menyadari bahwa keputusan yang ia buat pasti dipengaruhi oleh apa yang ia yakini, dan ia akan mengakui sekiranya ia tidak tahu. Pemikir mendalam selalu hati-hati dalam berpikir dan mau mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Ia selalu berusaha membuat penilaian secara adil dan rasional.
● Apa masalahnya dan bagaimana cara terbaik untuk mengatasinya?
● Apakah informasi ini bisa dipercaya?
● Apakah fakta-faktanya masuk akal?
Lalu, bagaimana kita berpikir dalam kehidupan sehari-hari?
Disadari atau tidak, kita menggunakan ketiganya dalam dalam kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang kita menggunakan pemikiran dangkal, kadang-kadang berpikir egois, dan kadang-kadang menggunakan pemikiran mendalam. Ada waktunya kita membuat keputusan tanpa berpikir sama sekali, misalnya untuk memenuhi undangan acara ulang tahun. Ada kalanya kita berpikir egois, misalnya memutuskan di rumah saja untuk membaca buku ketimbang memenuhi ajakan makan malam. Ada waktunya juga kita berpikir mendalam untuk membuat keputusan keputusan penting, yang kita pikir akan mempengaruhi masa depan kita.
Mengapa critical thinking penting?
Sekarang atau nanti, kita pasti akan membuat keputusan; kita juga akan berhadapan dengan masalah dan harus menemukan jalan keluar. Jika kita menguasai kecakapan critical thinking, itu berarti kita punya alat bantu yang memadai untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah.
Dengan critical thinking kita tahu bagaimana mencermati diri sendiri. Kita bisa mengevaluasi kebiasaan-kebiasaan kita setiap hari. Apa hal yang kita lakukan setiap hari? Dengan melakukan hal itu setiap hari, apakah kita akan menjadi orang yang lebih bermutu nantinya? Kita juga perlu mempertimbangkan apa implikasi dari keputusan atau tindakan yang akan kita ambil. Apa yang harus dilakukan untuk membangun kebiasaan yang baik? Apakah cara kita belajar sudah tepat?
Karena critical thinking adalah keterampilan yang penting, kita perlu berlatih sejak kecil untuk menguasainya. Mulai sekarang, ada baiknya kita mulai lebih kritis terhadap diri sendiri. Ajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri.
Sokrates dan seni bertanya
Sokrates adalah filsuf Yunani Kuno yang mengembangkan metode berpikir dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dengan cara itu, ia menguji seberapa masuk akal sebuah gagasan.
Sokrates mendapati bahwa banyak orang tidak bisa mempertahankan pernyataan atau kebenaran yang mereka yakini ketika mereka disodori pertanyaan-pertanyaan. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, Sokrates menyadarkan pentingnya mencari bukti, melakukan pengujian cermat terhadap penalaran dan asumsi, mempelajari semua aspek yang berkaitan dengan apa yang mereka yakini, dan menunjukkan implikasi dari segala sesuatu yang dinyatakan atau dilakukan. Implikasi adalah kemungkinan yang bakal terjadi sekiranya kita mengambil keputusan atau melakukan tindakan tertentu.
Inilah yang sekarang kita namakan critical thinking.
Baca: Sokrates, Dihukum Mati karena Mengajarkan Berpikir Jernih
Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa critical thinking adalah cara menemukan kelemahan pada tulisan yang kita baca, atau pada pernyataan yang kita dengar, atau pada kebijakan-kebijakan pemerintah.
Critical thinking tidak sama dengan berpikir negatif. Pemikir kritis mencari jawaban atas masalah-masalah untuk menemukan solusi terbaik.
Critical thinking di zaman digital dan internet
Era digital mendorong terjadinya perubahan cepat. Setiap saat muncul hal baru. Setiap saat kita dibujuk menggunakan teknologi baru. Situasi ini mengharuskan kita menjadi pembelajar seumur hidup. Sebuah lembaga bernama The Partnership for 21st Century Learning (P21) menyebutkan empat kecakapan yang perlu kita miliki saat ini, yaitu komunikasi, kolaborasi (kerjasama), kreativitas, dan critical thinking. Tulisan tentang empat kecakapan itu bisa dibaca di artikel ini: A new framework to help integrate 21st century skills in programs for children.
Ciri lain abad ke-21 adalah terjadinya banjir informasi. Kita bisa mendapatkan informasi tentang apa saja dengan mudah, sebagian kita perlukan, sebagian hanya sampah yang mengapung di permukaan. Tetapi semuanya datang kepada kita. Karena itu kita perlu memiliki metode atau cara untuk memilih dan mengevaluasi informasi. Kita memerlukan informasi yang relevan dan bisa dipercaya untuk membantu kita membuat keputusan. Untuk memilih informasi yang relevan dan bisa dipercaya inilah kita memerlukan kecakapan critical thinking.
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat akan membantu itu kita mendapatkan informasi yang kita perlukan.
Critical thinking membantu kita menulis lebih baik
Pada saat menulis, kita menggunakan hampir semua proses berpikir. Kita mengingat sesuatu, kita mengamati secara teliti, kita mengumpulkan informasi, kita membandingkan, kita membuat persamaan, kita menganalisa, kita melakukan penalaran, kita memberikan bukti-bukti, dan akhirnya kita membuat kesimpulan.
Menguasai critical thinking akan membantu kita antara lain:
● Membangun argumen yang jernih.
● Mampu menalar dengan baik.
● Menggunakan bukti-bukti untuk mendukung penalaran.
● Mampu bersikap kritis terhadap tulisan kita sendiri.
● Mengetahui mana yang sudah beres dan mana yang belum.
● Tahu di mana kekurangan tulisan kita dan tahu bagaimana meningkatkannya.
Jadi, mari kita belajar bertanya. Bertanya adalah cara alami kita untuk mengembangkan pengetahuan. Bertanya juga cara kita menjadi lebih kritis terhadap situasi, juga untuk memeriksa kebiasaan kita sehari-hari.***
Tulisan terkait: Sokrates, Dihukum Mati karena Mengajarkan Berpikir Jernih


0 comments:
Post a Comment