Content

Jane Goodall, si Penyayang

Jane Goodall, orang pertama yang meneliti simpanse di alam bebas. 
JANE GOODALL lahir di London, Inggris, pada 3 April 1934. Dia dia orang pertama yang mempelajari simpanse di alam bebas. Dari hasil studinya kita menjadi tahu bahwa simpanse bisa membuat dan menggunakan alat, memiliki perasaan atau emosi, dan makan daging. Sebelumnya orang menyangka simpanse hanya makan buah dan dedaunan.

Sejak kecil Jane menyayangi hewan. Ia senang bermain dengan hewan-hewan dan tertarik mengamati perilaku mereka. Jane bercita-cita hidup di Afrika.

Lulus SMA pada 1952, Jane tidak pernah melanjutkan kuliah. Ia harus bekerja apa saja untuk mendapatkan uang. Pada 1956, seorang teman mengundangnya ke Afrika. Keluarga temannya ini memiliki peternakan di Kenya. Jane senang sekali. "Ke Afrika!" katanya.

Di Afrika Jane bertemu Dr. Louis Leakey. Ia membantu Dr. Leakey menggali fosil. Beberapa waktu kemudian, ilmuwan itu memberinya pekerjaan baru, yaitu meneliti simpanse di Tanzania.

Jane menikmati persahabatan dengan para simpanse.
Mula-mula para simpanse lari menjauhi Jane. Karena itu, Jane hanya melihat mereka dari kejauhan. Akhirnya, para simpanse itu tak takut lagi. Mereka membiarkan Jane mendekat.

Jane belajar banyak hal tentang simpanse. Ia mencatat bahwa para simpanse menggunakan ranting sebagai alat. Mereka bisa jahat dan ganas. Tetapi lebih sering mereka baik hati dan penyayang.

Jane menyadari bahwa simpanse memerlukan perlindungan. Pada 1977, dia memulai membangun Institut Jane Goodall. Dengan lembaga itu, ia ingin melindungi semua makhluk hidup.

Saat ini Jane banyak bepergian ke mana-mana. Ia berceramah di depan orang banyak. Kepada mereka, Jane mengajarkan bagaimana menjadikan dunia ini tempat tinggal yang lebih baik bagi semua makhluk hidup.

***

Wawancara Jane Goodall
Mereka Menganggap Caraku Keliru

Jane Goodall dalam kunjungannya di Hungaria.
Hai Jane, kapan kamu pertama kali punya keinginan bekerja meneliti hewan-hewan?
Ketika umurku 10 tahun. Pada waktu itu aku ingin pergi ke Afrika, hidup di sana bersama hewan-hewan liar, dan menulis buku tentang mereka. Itu kira-kira 70 tahun lalu, dan cita-cita itu kelihatannya mustahil bagi anak-anak perempuan pada saat itu. Jadi tiap orang menertawaiku dan mengatakan, "Jane, bermimpilah tentang sesuatu yang kau bisa mencapainya."

Tetapi ibuku mengatakan: Jika kamu benar-benar menginginkan sesuatu, kau harus bekerja keras. Manfaatkan setiap peluang dan jangan pernah menyerah.

[Jane tiba di Tanzania pada 1960 ketika ia berusia 26 untuk mempelajari simpanse di Gombe Stream. Tempat itu sekarang menjadi taman nasional. Ia mendirikan Pusat Penelitian Hombe Stream pada 1965.]

Nasihat yang hebat! Apa yang paling istimewa dengan pekerjaan yang sudah kaulakukan?
Aku melakukan studi terhadap hewan-hewan dengan cara yang berbeda dibandingkan orang-orang lain. Ketika aku di Tanzania pada 1960-an, para peneliti lain menganggap caraku keliru. Mestinya aku tidak memberi nama pada simpanse-simpanse itu. Aku hanya perlu menandai mereka dengan angka-angka. Begitulah cara ilmuwan bekerja.

Mereka juga mengatakan bahwa mestinya aku tidak membahas kepribadian mereka, atau membicarakan pikiran dan emosi para simpanse. Menurut mereka, semua itu hanya dimiliki oleh manusia. Untungnya, aku belajar banyak dari anjingku pada saat aku masih kecil.

Simpanse, foto dari the Jane Goodall Institute.
Kelihatannya memiliki hewan piaraan di masa kanak-kanak berguna dalam penelitianmu. Apa yang paling membuatmu bangga?
Aku membantu manusia memahami bahwa manusia adalah bagian dari dunia hewan, bukan terpisah dari mereka. Ketika aku memulai penelitian, belum pernah ada sebelumnya orang yang meneliti simpanse di alam bebas. Maka aku bisa menunjukkan bagaimana perilaku mereka betul-betul seperti kita--mereka berciuman, berpelukan, berpegangan tangan, saling menepuk, saling menghibur, dan sebagainya.

Siapa simpanse favoritmu di Taman Nasional Gombe Stream?
Simpanse pertama yang tidak takut lagi denganku dan dan membiarkan aku mengikutinya masuk hutan, yaitu David Greybeard. Dia yang menunjukkan untuk pertama kali bagaimana membuat alat dan menggunakannya. Dia tampan sekali, lembut hati tetapi sangat tekun.

Apa yang paling mengejutkanmu mengenai simpanse-simpanse itu?
Sedihnya, mereka mampu melakukan perang, mereka bisa kasar dan ganas. Namun mereka juga menunjukkan cinta, belas kasih, dan saling memberi perhatian terhadap sesamanya.

Bagaimana cara mereka saling memberi perhatian?
Aku ingat ada anak lelaki simpanse berusia 3 tahun, namanya Mel. Ibunya meninggal. Mel baru mulai makan makanan keras pada waktu itu. Jadi dia sudah bisa hidup mandiri tanpa bantuan ibunya. Masalahnya, dia tidak punya kakak lelaki maupun perempuan yang bisa merawatnya. Itu biasa terjadi pada masyarakat simpanse. Jika ibu mereka meninggal, simpanse yang masih kecil akan dirawat oleh kakak-kakak mereka.

Tetapi sungguh menakjubkan, seekor simpanse berusia 12 tahun yang bukan saudaranya, bernama Spindle, bersedia merawat Mel. Spindle menggendong Mel ke mana-mana, menyelamatkannya dari situasi sulit, membawanya ke sarangnya pada malam hari, dan membagi makanan yang ia punya. Spindle menyelamatkan kehidupan si anak yatim. Itu pertama kalinya aku menyaksikan kejadian seperti itu antara dua simpanse yang tidak memiliki hubungan keluarga. Sangat mengharukan, karena Spindle sendiri baru saja kehilangan ibunya. Jadi sepertinya simpanse kecil itu membantu Spindle mengatasi rasa sedihnya.

Sungguh menakjubkan, Jane. Sekarang, apa saranmu untuk pembaca yang memiliki cita-cita sepertimu?
Keinginan kalian harus benar-benar kuat. Jangan menyerah. Buka mata dan telinga lebar-lebar untuk mendapatkan peluang yang akan membuat mimpi kalian jadi kenyataan.***

--- Wawancara di atas merupakan terjemahan dari wawancara dengan Dr. Jane Goodall oleh National Geographic Kids. Kunjungilah situsnya, ada banyak tulisan menarik di sana.

Ingin tahu bagaimana simpanse menggunakan alat? Lihat video ini. Pak David Greybeard yang tampan sedang mencari makanan.




0 comments:

Post a Comment

Mungkin Anda Belum Baca