
IBU marah-marah pada suatu malam.
“Anak-anak ini semuanya suka membantah,” katanya.
“Mungkin mereka sedang belajar mempertahankan pendapat,” kata ayah. “Kurasa tidak apa-apa. Setidaknya kita bisa merasa tenteram bahwa mereka tidak akan begitu saja mengikuti apa kata orang. Mereka akan menjadi orang-orang yang tidak mudah dibohongi.”
“Tapi mereka selalu membantah,” kata ibu.
“Kurasa tidak selalu,” kata ayah. “Mereka mau juga ketika diminta tolong membeli sesuatu di warung. Kadang-kadang mereka merasa perlu membantah. Tetapi tidak selalu.”
“Pokoknya aku ingin mereka menjadi anak yang penurut,” kata ibu. Dia mulai jengkel juga kepada ayah.
“O, kau ingin mereka seperti Toni?” tanya ayah.
Yang dimaksudkan oleh ayah adalah seorang anak lelaki dalam sebuah cerita dari Belgia. Toni selalu mengikuti apa kata orang lain dan tidak pernah memiliki pendapat sendiri. Yang dia kerjakan hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh orang lain.
Suatu pagi dia disuruh oleh ibunya untuk mengambil lima puluh kilogram gandum di penggilingan. Karena takut Toni lupa berapa banyak gandum yang harus dia ambil, ibunya mengingatkan:
"Toni, ingat ya, lima puluh kilogram gandum. Agar tidak lupa, nanti di jalan katakanlah berulang-ulang, 'Lima puluh kilogram gandum, lima puluh kilogram gandum.'"
"Baik, Bu, saya akan melakukannya," kata Toni, dan dia membawa karung menuju tempat penggilingan sambil terus-menerus mengucapkan kalimat yang diajarkan ibunya.
Tak lama kemudian, dia melewati sebuah ladang gandum dan di situ seorang petani sedang menaburkan benih. Petani itu heran. Toni tidak mengucapkan selamat pagi kepadanya, malahan “Lima puluh kilogram gandum.” Dia lalu menjadi marah dan berteriak ke arah Toni: "Berani-beraninya kau mengatakan ladangku hanya akan menghasilkan lima puluh kilogram gandum. Mestinya kau mengatakan, 'Semoga ada lima ratus.'"
"Baiklah, aku akan mengatakan begitu," kata Toni. Setelah itu dia mengulang-ulang, "Semoga ada lima ratus." Tidak lama kemudian, dia melihat seorang gembala dan anjingnya sedang diserang oleh seekor serigala. Gembala itu marah mendengar ucapan Toni. Dia mengira Toni berharap agar dia dan anjingnya diserang oleh lima ratus serigala. "Seharusnya kau mengatakan, 'Pergilah ke neraka sana!'"
"Baiklah, aku akan mengatakan begitu," kata Toni. Maka, ia pun mengucapkan berulang-ulang kalimat itu, sampai ia melewati tempat pemakaman dan hari itu ada orang meninggal dan jenazahnya dimakamkan di sana.
“Pergilah ke neraka sana,” katanya.
Orang-orang yang sedang memakamkan jenazah terkejut mendengar ucapan Toni dan mereka menjadi marah. “Anak gila!” kata pendeta yang memimpin pemakaman. “Seharusnya kau mengatakan, ‘Semoga damai di sisi Tuhan.’”
Toni menuruti ucapan pendeta itu. Dia mengulang-ulang kalimat: “Semoga damai di sisi Tuhan.”
Pada saat itu di tepi sungai ada seseorang yang sedang ketakutan menghadapi anjing galak. Lelaki itu berusaha mengusirnya, dan dia mendengar Toni mengatakan, “Semoga damai di sisi Tuhan.” Orang itu merasa Toni mendoakannya agar lekas meninggal. Dia marah: “Seharusnya kau mengatakan, ‘Hai, anjing buruk. Menyingkirlah.’”
“O, tentu saja aku akan mengatakan begitu,” kata Toni. Dan dia mengatakan berulang-ulang kalimat yang disarankan oleh lelaki tadi.
Di depan gereja, dia bertemu dengan sepasang pengantin yang baru selesai menjalankan akad nikah. Mereka mendengar Toni mengatakan, “Hai, anjing buruk. Menyingkirlah,” ketika berpapasan. Pengantin perempuan menjadi marah karena ucapan Toni. “Anak brengsek!” kata perempuan itu. “Seharusnya kau mengatakan, ‘Semoga berbahagia.’”
“Baiklah, aku akan mengatakan begitu,” kata Toni. Seperti yang sudah-sudah, Toni berulang-ulang mengatakan kalimat yang disampaikan orang kepadanya.
Tempat penggilingan tidak begitu jauh lagi. Di sebuah kampung, Toni melihat ada rumah terbakar. Orang-orang berlarian membawa air dalam ember untuk menyiram api. Mereka menjadi marah ketika mendengar Toni mengatakan semoga berbahagia. “Tolol kau ini!” bentak salah seorang. “Bagaimana orang bisa berbahagia jika rumahnya kebakaran? Seharusnya kau mengatakan, ‘Semoga apinya padam.’”
“Baiklah,” kata Toni. “Aku akan mengatakan begitu.”
Seratus meter dari tempat penggilingan ada rumah seorang pandai besi. Hari itu si pandai besi sedang mengerjakan pesanan untuk membuat kapak, palu, dan alat-alat pertukangan lainnya. Dia sedang menyalakan api di tungku penempaannya ketika Toni lewat dan mengatakan berulang-ulang, “Semoga apinya padam.”
Pandai besi itu marah mendengar ucapan Toni. Dia segera keluar sambil mengacungkan kapaknya ke arah Toni. Toni tidak tahu apa kesalahannya, tetapi ketika melihat si pandai besi datang ke arahnya sambil mengacung-acungkan kapak, dia segera lari sekencang-kencangnya.
Pandai besi terus mengejarnya dan tidak berhenti mengejar sampai siang, sampai sore, sampai malam. Besoknya si pandai besi masih mengejar Toni, dan Toni tetap berlari sekencang-kencangnya keluar masuk kampung, berusaha agar jangan sampai tertangkap. Jika si pandai besi tidak berhenti mengejar, pasti sampai sekarang Toni masih terus berlari keluar masuk kampung menghindari kejaran si pandai besi.***

0 comments:
Post a Comment